Ketika MIU Jadi Tempat Curhat Para Camat


Posted on 07 Mei 2015

Tags: Sosial


Kebijakan pengurus Koperasi SPS BMT UGT Sidogiri Indonesia yang menyalurkan dana sosial kepada Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) sebagai bentuk tanggung jawab sosial kepada masyarakat, makin menunjukkan kemaslahatannya. Program Qoryah Thoyyibah Sidogiri (QTS) sebagai Mitra Internal UGT (MIU) yang dilaksanakan oleh IASS, makin memberi manfaat kepada masyarakat luas.  Pada tahun 2015 ini, para pengelola QTS mencanangkan menggarap 32 desa yang ada di kecamatan Kraton, Rembang, Wonorejo dan Pohjentrek.

Sebagai langkah awal, para pengelola QTS mengadakan silaturahmi dengan para camat dari 32 desa untuk menyampaikan program kerja QTS dan menjaring aspirasi dari para camat yang dilaksanakan pada Rabu siang (29/4/2015) di ruang pertemuan di rumah makan Kebon Pring Pasuruan. Berikut catatan dari pertemuan tersebut.

Ada hal yang menarik dari pertemuan perkenalan program antara para pengelola QTS dengan 4 camat dari kecamatan Kraton, Rembang, Wonorejo dan Pohjentrek. Ternyata, pertemuan tersebut menjadi ajang curhat bagi para camat atas berbagai permasalahan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas mereka dalam membina para kepala desa di kecamatan mereka masing-masing.

“Saya sering memberikan nasihat kepada para kepala desa, namun masih ada yang tidak menghiraukan. Karena itu, saya sangat mengharapkan adanya program pembinaan mental dan spiritual bagi para kepala desa,” demikian disampaikan oleh Camat Pohjentrek  Budi Utomo kepada Wakil Direktur QTS H. Bashori Alwi seusai pemaparan program-program QTS.

 Hal senada juga disampaikan oleh Camat Rembang Ito Ashari. “Saya mengharapkan diadakan pembinaan mental dan spiritual untuk para kepala desa di kecamatan Rembang terutama dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa. Saya khawatir, para kades akan menganganggap dana tersebut sebagai uang sendiri,” ungkap Ito Ashari.

Sementara itu, Camat Kraton Zubad memberikan apresiasi yang sangat positif dengan kegiatan QTS yang telah dilaksanakan di empat desa di kecamatan Kraton yaitu Jeruk, Sidogiri, Ngempit dan Karanganyar.  “Apalagi sekarang seluruh desa di kecamatan Kraton masuk dalam peta garapan Program Qoryah Thoyyibah Sidogiri. Program seperti ini sangat positif sekali dan mengingatkan saya dengan kehidupan masa kecil dulu di madrasah,” papar Zubad.

Selain program pembinaan mental dan spiritual bagi para kepala desa, program lain yang diusulkan oleh para camat adalah program pembinaan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).  Camat Rembang Ito Ashari, misalnya, mengusulkan adanya program pembinaan kesehatan PAUD agar mereka bisa mendapatkan pendidikan sejak dini tentang makanan yang bergizi dan halal. Sedangkan Camat Pohjentren Budi Utomo, mengharapkan adanya program pembinaan bagi para guru PAUD. “Sebab, merekalah yang akan mendidik benih-benih tunas bangsa agar memiliki karakter,” papar Budi Utomo.

Seminar Halalan Thoyyibah

Dalam pertemuan antara para pengelola QTS dengan para camat juga disinggung rencana untuk menggelar seminar makanan yang halalan thoyyibah yang akan dilaksanakan pada 9 Mei 2015 mendatang dengan menghadirkan Prof. Ir. Sukoso dari Universitas Brawijaya Malang sebagai nara sumber utama. Selain kegiatan seminar juga akan dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman antara Ikatan Alumni Santri Sidogiri dengan Universitas Brawijaya Malang.

Karena itulah, Direktur Program QTS H. Mahmud Ali Zain tidak dapat hadir dalam pertemuan dengan para camat. Sebab, beliau bersama dalam waktu yang bersamaan tengah mengadakan pertemuan dengan KH. Mahfudz Saubari, Prof. Imam Suprayogo dan pengusaha perkebunan dan peternakan Masngud di Hotel Brawijaya Malang. Pertemuan tersebut untuk mematangkan persiapan seminar halalan thoyyibah dan menjalin kerjasama yang lebih nyata untuk memadukan antara pemikiran dari kampus, pesantren dan dunia bisnis.

Mokh. Syaiful Bakhri