Waspadai Ancaman Disrupsi pada KSPS

    Mokh Syaiful Bakhri Minggu,05 Mei 2019-04:01:18


    Diprediksi di masa yang akan datang ada 10 industri yang akan punah sebagai akibat dari disrupsi atau perubahan yang sangat fundamendal terkait dengan revolusi industri 4.0.  Di antara 10 industri yang terancam punah  yaitu restoran, cinema, universitas, hotel, bimbingan belajar, buku, bank, dokter dan perawat, manufaktur dan mall.

    Ancaman kepunahan atau kebangrutan industri perbankan ini perlu mendapat perhatian dari Koperasi Simpan Pinjaman Syariah (KSPS) yang ada di Sidogiri (Koperasi BMT Maslahah dan Koperasi BMT UGT Indonesia) karena usaha KSPS memiliki kesamaan dengan bank. Oleh karena itulah, KSPS dituntut untuk melakukan perubahan dan inovasi supaya terhindar dari bahaya disrupsi di masa yang akan datang.

    Core business atau aktivitas utama bisnis kita adalah simpan pinjam. Oleh karena itu,  waspadalah terhadap ancaman kebangkrutan di masa yang akan datang terhadap 10 industri yang salah satunya adalah perbankan,” kata H. Mahmud Ali Zain sesaat sebelum berangkat untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci Makkah dan Madinah, Rabu (1/5/2019).

    Apa yang menimpa terhadap Nokia yang pernah menjadi penguasa penjualan HP di masanya perlu untuk diperhatikan. “Siapa yang menyangka Nokia bisa bangrut dilindas oleh Blackberry (BB). Bahkan, pemilik Nokia sendiri sampai mempertanyakan: apa kesalahan kami sehingga bisa bangkrut? Lalu BB ditinggalkan oleh para pengguna smart phone dan beralih ke Android. Nokia dan BB sama-sama terkena disrupsi akibat perubahan era industry 4.0,” kata pendiri Koperasi BMT Maslahah dan Koperasi BMT UGT Indonesia memperingatkan.

    Maka dalam industri keuangan, lanjutnya, para pengelola KSPS di Sidogiri harus mewaspadai ancaman kebangrutan di masa yang akan datang karena diprediksi salah satu industri yang akan punah adalah bank. “Oleh karena itu, jangan merasa bangga bila NPF atau Non Performing Loan kita turun. Perlu diteliti dulu, penyebab turunnya NPF itu karena apa. Jangan-jangan NPF turun karena pembiayaan juga turun,” katanya.

    Untuk iitu, katanya, KSPS di Sidogiri perlu melakukan kooperasi dan kolaborasi supaya tidak mengalami kebangrutan di masa yang akan. “Bila tidak mau kooperasi dan kolaborasi, maka kita akan kalah bersaing. Contohnya, bila kita memiliki usaha furniture, maka perlu melakukan kooperasi dan kolaborasi dengan para penyedia bahan baku (kayu) dan pemasaran dari produk furniture  yang kita buat,” imbuhnya.

    Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan kemudahan pelayanan kepada para anggota. Core business KSPS adalah simpan pinjam. Keuntungan bisnis simpan pinjam itu dari adanya pembiayaan. Apabila jumlah pembiayaan itu semakin menyusut, maka itu harus diwaspadai kenapa terjadi penyusutan. “Jangan sampai kita disibukkan dengan hal-hal sepele dan melupakan hal besar yang terkait dengan core business kita. Pengabaian tersebut dapat menimbulkan kebangrutan di masa yang akan datang,” tandasnya.

    Tantangan pelayanan di masa mendatang adalah kemudahan dalam pelayanan. Lihatlah, orang-orang sekarang makin mudah dalam memesan makanan, hotel, ataupun pembelian barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tinggal mencet HP, apa yang dipesan akan segera datang tanpa perlu datang ke tokonya. “Oleh karena itu, layanan dalam pembiayaan itu harus dipermudah dan jangan sampai dipersulit. Kalau di bank pembiayaan itu bisa cair dalam tiga hari, jangan sampai kita lebih dari tiga hari supaya orang-orang tidak lari dari menggunakan pembiayaan lewat KSPS ke bank konvensional,” pungkasnya. 

     


    Tinggalkan komentar:

    Baca Juga

    Tawarkan Aset Tanah dan Bangunan di Pasuruan

    2 hari yang lalu

    Kitab Salaf Jadi Rujukan Ekonomi Syariah

    6 hari yang lalu

    Makna Kembali pada Jatidiri Santri

    6 hari yang lalu

    Empat Alasan Abdussalam Bersedia sebagai Manager Keuangan

    2 minggu yang lalu

    Lebih Dekat Manajer Pengendalian Resiko HM. Sholeh Wafie

    2 minggu yang lalu