Mengenang Patriotisme KH. Abd. Djalil bin Fadlil

    Mokh Syaiful Bakhri Minggu,27 Agustus 2017-01:53:05


    Jasa para ulama terhadap tegaknya NKRI tidak dapat pungkiri. Mereka mengorbankan jiwa, raga dan harta agar Indonesia dapat meraih kemerdekaan dari cengkraman penjajah Belanda maupun Jepang. Bahkan, saat Indonesia sudah merdeka dan kemerdekaan itu mau direbut dari genggaman, para ulama memiliki andil yang sangat besar sehingga Indonesia tetap merdeka sampai hari ini.

    Lahirnya Resolusi Jihad yang diserukan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim As’ary merupakan bukti otentik peran ulama dalam mempertahakankan kemerdekaan NKIR. Api revolusi resolusi Jihad dari tokoh pendiri NU tersebut menyulut peristiwa 10 November  di Surabaya. Begitupula, ketika PKI berkhianat dan hendak merobohkan NKRI, para ulama berada pada barisan terdepan membela NKRI. Para ulama bersatu padu menyelamatkan bangsa dan negara dari pengkhiatan PKI terhadap NKRI.

    Setelah tugas suci membela negara dari penjajahan dan pengkhinatan PKI usai. Para ulama kembali ke pesantren. Mereka tidak meminta apapun dari pemerintah atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menyelamatkan NKRI dari pengkhianatan PKI. Berjuang membela negara bagi para ulama merupakan kewajiban yang iklah dilaksanakan sebagai perwujudan bakti mereka terhadap Ibu Pertiwi. Apa yang mereka lakukan semata-mata ikhlas berjuang di jalan Allah tanpa pamrih apapun.

    Bagi para ulama membela bangsa (patriotisme) dan membela agama (jihad fi sabilillah) merupakan satu kesatuan utuh. Dalam hati dan sanubari para ulama terpatri dengan tegas bahwa cinta tanah air (nasionalisme) merupakan sebagian dari keimanan. Maka dari itu, orang-orang yang beriwan, wajiblah berjibaku membela bangsa dan negara pada saat ibu pertiwi memanggil.

    Di antara para ulama yang gugur dalam membela NKRI dari bangsa penjajah adalah KH. Djalil bin Fadhil. Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ini gugur sebagai syuhada saat Belanda melakukan operasi militer di Sidogiri. Beliau menghembuskan nafas terakhir setelah tubuhnya ditembus timas panas Belanda.

    Petikan puisi yang ditulis oleh Haidar Hafeez dengan judul “KYAI ABDUL DJALIL SIDOGIRI” berikut ini melukiskan bagaimana perjuangan dan pengorbanan KH. Abdul Djalil bin Fadhil  ini.

    KYAI ABDUL DJALIL SIDOGIRI

    Oleh Haidar Hafeez


    Membaca kisahmu hati tersayat
    Aku terpeanjat
    Seketika aku munajat
    Pada zat pencipta kiamat
    Bahwa subuh berdarah adalah sejarah
    .
    Pagi itu tidak seperti pagi biasa
    Sidogiri menangis
    Kiyai Abdul Jalil sang penyangat agama 
    Wafat sebagai suhadaillah
    Tertembus pelor penjajah Belanda yang terkutuk
    .
    Kiyai Abdul Jalil Sidogiri
    Saat kau panjatkan doa kunut
    Tiba-tiba sejadah subuhmu bersimbah darah
    Sedikitpun kau tidak merasakan punggung dan dadamu koyak
    Begitu nikmatnya kau mengarungi lautan rindu tuhan Allah subhanahu wa ta-ala
    Bagimu shalat adalah menjumpai-Nya
    Tidak ada kenikmatan kecuali shalat menghamba
    pada-Nya
    .
    Tiga perempat abad silam
    Sungai pondok Sidogiri
    Merah darah pendiri republik Indonesia
    Airnya seketika mengalir wangi melati
    Putih tulus niat romo kiyai Abdul Jalil Sidogiri
    .
    "La haula wala kuwata illa billahil aliyil azim"
    Tidak ada kekuatan mengibarkan merah putih
    Kecuali kekuatan-Mu ya tuhan mengobarkan iman
    Bahwa "hubbul waton minal iman"

     

    Mokh. Syaiful Bakhri


    Tinggalkan komentar:

    Baca Juga

    Kepercayaan Mitra Perbankan Syariah dan Kemenkeu Meningkat

    9 jam yang lalu

    BMT UGT Masuk Daftar 12 Koperasi Triliuner

    2 hari yang lalu

    Sri Mulyani Minum AMDK “Santri” Jadi Viral

    1 minggu yang lalu

    Bantuan Yayasan Yasudu Sangat Berarti Bagi Warga Miskin

    1 minggu yang lalu

    Yayasan Yasudu Bantu Bangun dan Renovasi Rumah Warga Miskin Sidogiri

    2 minggu yang lalu